The Sedayulawas Village

SEDAYULAWAS BRIDGE
Will be the best bridge in Lamongan

DAFTAR TUGAS :

Go To Paper
Go To Tabel
Go To Form
Go To Java Script
Go To Pengulangan
Go To Onload JavaScript
Go To Form Php
Go To Form CV to Database
Go To Form CV Php

Free Template
CSS Template

BIODATA

Nama : Anwar Tsani
NPM : 13630713
Kelas : 3A Uniska Banjarmasin
Jurusan : Teknik Informatika (reguler)
Prodi : Teknologi Informasi (reguler)

HIBURAN

NONTON TV ONLINE
FILM
VIDEO

MUSIC
WOMAN RADIO
RADIO TUBAN - SiFM
RADIO Suara Surabaya
RADIO MUSLIM

Link

Facebook
G-mail
Karnaval Sedayulawas
Wisata Bahari Lamongan

Download

Download DJ Music
Download Film
Download Video Youtube

Waktu Banjaramasin Sekarang




Sejarah Sedayulawas

Dewi Rara Tangis adalah seorang putri yang sangat cantik sehingga tidak sedikit orang yang ingin memilikinya. Di tengah-tengah perjalanan cinta antara Gajah Belang dan Dewi Rara Tangis, ada seorang putra bangsawan yang berasal dari Tuban yang bernama Jaka Kuncir yang ingin memiliki dan meminang Dewi Rara Tangis. Begitu juga dengan Indra Soewarna putra dari Kiageng Rengel ( sambas ) juga ingin menjadi pendamping Dewi Rara Tangis untuk menjadi istrinya, tapi semua itu tinggallah impian saja. Dewi Rara Tangis tidak mencintai Indra Soewarna ataupun Jaka Kuncir, ia hanya mencintai Gajah Belang meskipun Gajah Belang memiliki wajah yang sangat jelek. Dewi Rara Tangis menolak kepada kedua putra bangsawan itu untuk dijadikan pendamping hidup karena selain Dewi Rara Tangis tidak mencintai mereka berdua, mereka berdua mempunyai kepercayaan yang berbeda, mereka beragama budha.

Raden Rangga Jaya Sasmita atau ayah Dewi Rara Tangis mengetahui hubungan anaknya dengan Gajah Belang. Raden Rangga Jaya Sasmita tidak memperbolehkan kepada anaknya Dewi Rara Tangis supaya tidak lagi berhubungan dengan Gajah Belang, karena wajah Gajah Belang yang sangat jelek. Gajah Belang juga merupakan seorang rakyat jelata yang tidak pantas mempunyai hubungan baik dengan seorang putrid Tumenggung. Raden Rangga Jaya Sasmita beranggapan bahwa hubungan antara Dewi Rara Tangis dengan Gajah Belang merupakan suatu penghinaan besar bagi diri Raden Rangga Jaya Sasmita, karena anaknya yang sangat cantik yang dikagumi banyak orang mencintai seorang pemuda yang berasal dari rakyat biasa atau bukan bangsawan.

Raden Rangga Jaya Sasmita bermaksud untuk menghancurkan hubungan antara Dewi Rara Tangis dengan Gajah Belang. Namun, segala usaha Raden Rangga Jaya Sasmita yang ingin memisahkan cinta yang terjalin antara Dewi Rara Tangis dan Gajah Belang tidak ada hasilnya. Bahkan mereka sangat dekat dan kuat menjaga hubungan mereka. Hingga berulang kali Raden Rangga Jaya Sasmita berusaha, namun semua itu sia - sia tidak ada hasilnya. Segala usaha Raden Rangga Jaya Sasmita itu tidak berhasil, ia ingin membunuh dengan cara yang licik. Raden Rangga Jaya Sasmita berhasil membunuh Gajah Belang. Dengan akal licik itu Gajah Belang terbunuh dengan sebuah panah yang diluncurkan ke arah dada Gajah Belang oleh Raden Rangga Jaya Sasmita ayah Dewi Rara Tangis. Anak panah yang ada di dada Gajah Belang tersebut kemudian diambil dengan di cabut oleh Raden Rangga Jaya Sasmita dan muncullah suatu keajaiban. Setelah di cabutnya anak panah tersebut mengalirlah darah Gajah Belang yang berwarna putih. Setelah melihat suatu keajaiban pada diri Gajah Belang, Raden Rangga Jaya Sasmita baru menyadari atas segala perbuatan yang ia perbuat yang selama ini mempunyai niat untuk memisahkan hubungan Dewi Rara Tangis anaknya dengan Gajah Belang. Raden Rangga Jaya Sasmita baru sadar bahwa perbuatan yang paling buruk selama hidupnya adalah perbuatan yang dilakukan kepada Gajah Belang.

Dewi Rara Tangis kemudian mengetahui segala perbuatan ayahnya yakni Raden Rangga Jaya Sasmita kepada Gajah Belang. Dewi Rara Tangis sangat sedih setelah mendengar kejadian yang selama ini tidak disangka. Sementara itu Raden Rangga Jaya Sasmita melihat anak gadisnya yang sedih, ia juga merasa bahwa membunuh Gajah Belang adalah suatu kesalahan yang sangat besar. Dewi Rara Tangis marah dengan ayahnya Raden Rangga Jaya Sasmita dan untuk itu Dewi Rara Tangis ingin segera untuk meninggalkan rumahnya dan juga keluarganya. Dewi Rara Tangis kemudian meninggalkan rumahnya dan pergi. Dalam kepergian Dewi Rara Tangis, Raden Rangga Jaya Sasmita beserta keluarganya sangat kecewa kehilangan seorang gadis yang sangat cantik yang mana Dewi Rara Tangis tidak akan kembali pulang untuk selamanya. Dewi Rara Tangis pergi dan tidak kembali pulang hanya untuk pergi bertapa untuk selama – lamanya. Dalam janjinya Dewi Rara Tangis akan berusaha untuk menjadi orang yang cantik untuk selama - lamanya. Dewi Rara Tangis pergi bertapa untuk selamanya hanya untuk mengenang Gajah Belang dan untuk menjadi orang yang cantik selama - lamanya. Dalam bahasa jawanya " DADI WONG SING AYU SAK LAWAS - LAWASE atau SIDO AYU SAK LAWASE ". Kemudian wilayah itu mempunyai kisah tersendiri, dan untuk itu orang - orang yang ada disekitar wilayah tersebut akan mengenang dan mengabadikan menjadi nama atau sebutan untuk sebuah daerah dengan kata " DESA SEDAYULAWAS ". Dengan demikian nama SEDAYULAWAS hingga saat ini masih abadi dengan sebuah desa yang aman dan makmur dalam kehidupan penduduknya.